Stunting World Bank (2007) menambahkan, selain tidak memadainya

Stunting
adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak-anak dari gizi
buruk, infeksi yang berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai.
Anak-anak didefinisikan sebagai kerdil (stunted)
jika tinggi badan sesuai usia mereka terhitung lebih dari dua standar deviasi
di bawah rata-rata Standar Pertumbuhan Anak WHO. Sedangkan stunting yang parah
didefinisikan sebagai tiga atau lebih standar deviasi di bawah rata-rata (WHO (2006)).

Ada beberapa tanda yang
dapat diartikan sebagai gejala stunting, yaitu :

1.     
Tinggi badan, berat badan, dan lingkar
kepala tidak berjalan normal menurut grafik pertumbuhan standar.

2.     
Keterampilan fisik, seperti bergulung, duduk
tegak, berdiri, atau berjalan, lambat berkembang.

3.     
Keterampilan sosial dan mental tertunda.

4.     
Perkembangan karakteristik seksual
sekunder (misalnya, rambut wajah pada pria, payudara wanita) tertunda pada remaja.

Apa
penyebabnya?

Menurut UNICEF (1998),
terdapat 2 faktor utama penyebab stunting yakni asupan makanan yang tidak
seimbang dan riwayat penyakit. The World Bank (2007) menambahkan, selain tidak
memadainya makanan dan infeksi, status berat badan lahir juga mempengaruhi
secara langsung kejadian stunting. Menurut Soetjiningsih (1995), tumbuh kembang
anak dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan.

Karya Danaei et al.
(2016) menunjukkan bahwa tingkat stunting global yang tinggi dikaitkan dengan
sejumlah faktor yang berisiko, termasuk perawakan ibu yang pendek, pertumbuhan
janin yang terbatas, diare dan gizi anak, dan sanitasi yang buruk.

Dampak
terjadinya Stunting

Stunting di awal
kehidupan (terutama di 1000 hari pertama sejak pembuahan sampai usia 2 tahun
dan terus terjadi sampai dengan usia 5 tahun) mengganggu pertumbuhan dan memiliki
konsekuensi fungsional yang merugikan anak-anak, yakni sebagai berikut :

1.     
Penderita stunting memiliki risiko lebih besar untuk penyakit dan kematian
dini.

2.     
Stunting
dapat
mengakibatkan perkembangan mental anak tertunda dan menyebabkan kinerja sekolah
yang buruk yang kemudian dapat mengurangi produktivitas di angkatan kerja.

3.     
Stunting
juga
dapat mengurangi kapasitas kognitif dan pendidikan yang buruk dalam kehidupan.

4.     
Risiko yang lebih tinggi untuk
mengembangkan kondisi kronis yang tidak menular seperti diabetes dan obesitas
saat orang dewasa. Jika seorang yang stunted
mengalami kenaikan berat badan yang cukup besar setelah usia 2, ada kemungkinan
lebih tinggi mengalami obesitas yang disebabkan oleh perubahan metabolik yang
dihasilkan oleh malnutrisi kronis, yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan metabolisme
tubuh.

5.     
Risiko lebih tinggi untuk mengembangkan
penyakit menular lain yang tidak menular seperti hipertensi, penyakit jantung
koroner, sindroma metabolik dan stroke.

6.     
Wanita yang stunted semasa kecil memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi
selama kelahiran anak karena panggul mereka yang lebih kecil, dan berisiko
melahirkan bayi dengan berat lahir rendah.

7.     
Pertumbuhan terhambat bahkan bisa
diteruskan ke generasi berikutnya (ini disebut “siklus gizi
antimenerasi”).

Stunting
pada anak usia dini dikaitkan dengan gangguan kemampuan kognitif dan morbiditas
dan mortalitas yang lebih tinggi, yang dapat menyebabkan efek panjang dari upah
yang lebih rendah dan kehilangan produktivitas (Sudfeld et al., (2015);
Prendergast and Humphrey (2014); Victora et al., (2008); Hoddinott et al., (2013a),
(2013b); Alderman et al., (2006)). Ibu yang kerdil juga cenderung memiliki anak
yang kerdil, sehingga dampak sosioekonomi dan kesehatan yang negatif dari
stunting dapat bertahan selama beberapa generasi (Onis dan Branca (2016)).

Pada
tingkat masyarakat, individu yang mengalami stunting tidak memenuhi potensi
perkembangan fisik dan kognitif mereka dan tidak akan mampu memberikan
kontribusi maksimal kepada masyarakat. Oleh karena itu, pengerdilan dapat
membatasi perkembangan ekonomi dan produktivitas, dan diperkirakan dapat
mempengaruhi PDB suatu negara sampai 3%.

Standar
Pertumbuhan Anak WHO, yang mengklasifikasikan apakah anak menderita stunting,
menemukan bahwa lebih dari 160 juta anak balita terkena dampak stunting pada
tahun 2012. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mengkonfirmasi bahwa 37,2% anak
balita dikategorikan mengalami kerdil pada tahun 2015, yang sudah menurun menjadi
27,5% pada tahun 2016. Angka ini membutuhkan perhatian pemerintah karena
negara-negara Asia Tenggara lainnya memiliki persentase kasus stunting yang
jauh lebih rendah

Program
Intervensi Gizi oleh Pemerintah

Kementerian
Kesehatan saat ini sedang mempromosikan gerakan nasional percepatan peningkatan
gizi. Salah satu programnya adalah mengurangi kasus stunting hingga 40% pada
tahun 2025.

Pemerintah
berhasil mengurangi angka balita yang menderita stunting atau kekurangan gizi
kronis. Dilansir dari Tribun News (2017), data Kementrian Kesehatan menunjukkan
bahwa jumlah balita yang mengalami stunting di Indonesia berhasil berkurang dari
29% pada 2015 menjadi 27,5% pada 2016. Penurunan ini adalah hasil kontribusi dari
2 program intervesi yang pemerintah lakukan.

Program
pertama adalah pemberian beras sejahtera (rastra). Program ini bertujuan untuk
memenuhi kebutuhan kalori, yang mana pemerintah memberikan jatah 15 kg beras
kepada setiap keluarga yang terdaftar dalam program ini.  Program kedua adalah Program Keluarga Harapan
(PKH), pemerintah memberikan bantuan sebesar Rp. 1,89 juta tiap tahun. Dengan
dilaksanakannya 2 program intervensi pemerintah ini, diharapkan dapat
menurunkan jumlah balita stunting di Indonesia.

Selain
program intervensi gizi yag dilakukan oleh pemerintah,

Bagaimana
Cara Mengatasi Masalah Stunting

Pemerintah telah
mengupayakan untuk mengatasi masalah stunting, dan hasilnya cukup baik. Angka
stunting di Indonesia telah berkurang tahun demi tahun. Namun itu saja belum
cukup.

Upaya
lain yang dapat dilakukan adalah dengan cara mengadakan program masyarakat
untuk memastikan akses rumah tangga terhadap sanitasi yang layak, ketersediaan
air bersih dan makanan bergizi, dukungan pengurangan kemiskinan bagi keluarga
yang membutuhkan, pendidikan tentang bagaimana memberi makan anak-anak dan
melindungi mereka dari infeksi, dan layanan kesehatan yang memadai dan mudah
diakses untuk mencegah dan mengobati infeksi secara kolektif dapat mengurangi
stunting pada populasi.

Related Posts

© All Right Reserved